Kamis, 15 Januari 2009

Januari = Hujan Sehari Hari

Sudah 4 hari ini Jakarta diguyur hujan terus menerus. Setiap pagi payung orangeku tidak pernah tidak mengepakkan sayapnya. Musim ini adalah shiftnya bekerja setelah sekian lama menganggur.

Hujan itu:
1. Membuat suasana menjadi mellow. Mungkin itu sebabnya salah lagu Glen, aku lupa judulnya apa, punya satu lirik begini, "Berakhir di Januari...." Yap, kisah cinta berakhir di Januari, diiringi deraian air mata, diimbangi dengan air hujan yang turun dengan syahdunya, terasa pas sekali bukan.

2. Berkah buat adek-adek ojek payung (kebanyakan dari mereka masih berstatus murid SD atau SMP) tapi musibah bagi para tukang cuci karena cucian mereka tak kunjung kering dan berujung pada bau pakaian yang apek. Alamat diomelin si empunya baju lah... Naseeeebbbbb....

3. Membuat udara menjadi dingin, adem, pewe buat melingkar seperti kucing di tempat tidur lengkap dengan selimutnya. Hmmm....yahud...anget.

4. Umbrella/rain coat is important thing you can't live without. Ha...ha...ha...lebaiiii... Seperti kemaren ketika aku lupa membawa payung dan terjebak di depan sebuah kantor sambil harap-harap cemas menanti kapan hujan reda walaupun pesimis mendera mengingat awan putih menggelayut mantap di atas sana. Untung...dengan sedikit rayuan dan sms mengiba kepada seorang teman, datang bantuan berupa payung jemputan. Yuuuhhhuuu...dunia tersenyum kembali padaku.

5. Indomie, bakso, bakwan malang, dan kroni-kroninya are the way to heaven. Halah... Tapi ya to, ya to?!

6. Membuat lambung berasa melar sekian persen, rasanya laper mulu. Entah kenapa...

7. Masa dag dig dug debar jantungku buat yang punya rumah di daerah rawan banjir atau jalan menuju ke kantor musti nglewatin daerah banjir. Barang-barang sudah mulai dipindah ke tempat yang lebih tinggi supaya tidak terendam, mobil ditaroh di tempat lain yang lebih aman, dan karung-karung pasir untuk membendung banjir sudah mulai dipasang. Kalau sudah begini, tidur di malam hari tidak terasa nikmatnya lagi, khawatir sewaktu-waktu banjir menerjang.

Selasa, 30 Desember 2008

Men Sana in Corpore Sano

Pasti udah pada pernah denger lah ya istilah itu dari jaman masih pada imut-imutnya alias SD. Sering dipake juga kan jadi kata-kata mutiara andalan pas ngisi biodata di diary temen atau di sticker nama. Tentunya selain Ora et Labora yang sempet menduduki peringkat pertama kata mutiara andalan pada jamannya. He'eh betul, artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kalo dipahami lebih dalam, berarti untuk punya jiwa yang kuat harus punya tubuh yang sehat. Untuk itulah orang-orang dihimbau untuk olah raga. Bahkan dulu tuh ada yang namanya SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) dan itu acara wajib di SD-ku tiap hari Jumat. Teng...tereteng teng teng...teng teng teng teng...dst...

Makin tua, baru makin menyadari kalo statement di atas ternyata gak sepenuhnya bener. Jiwa yang kuat dan tubuh yang sehat itu punya interkoneksi dengan kecenderungan hubungan yang berbanding lurus. Elemen yang satu berpengaruh terhadap elemen yang lain. Seperti halnya pertanyaan mana dulu, ayam atau telur, ini juga terjadi pada elemen jiwa yang kuat dan tubuh yang sehat. Tidak bisa dipastikan mana yang harus dimiliki duluan, jiwa yang kuat atau tubuh yang sehat. Banyak kejadian di dunia ini membuktikan bahwa jiwa yang kuat, tahan banting, gak gampang stres, berpengaruh banyak dalam menentukan tubuh menjadi sehat atau tidak. Dan, banyak pula kejadian yang membuktikan bahwa manusia dengan pola hidup sehat (makan 4 sehat 5 sempurna atau bahkan cenderung vegetarian, rajin olahraga, senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan) atau dengan kata lain manusia bertubuh sehat adalah manusia yang mampu mengolah emosi jiwa dengan baik.

Seseorang dengan terpaan masalah bertubi-tubi, komplikasi masalah keluarga, kantor, romantisme hati, penyakit, dan keuangan, bisa dipastikan sulit untuk menjadi tidak stres. Ok-lah tidak usah separah itu, cuma manusia gendeng dengan masalah keluarga yang pelik dan menahun yang bisa lepas dari hantu stres. Cuma manusia dengan hati baja dan kekuatan iman seperti santo/santa yang bisa sanggup menghadapi dan dengan kepala dingin terus berusaha mencari solusi atasnya. Lalu apa yang harus dia lakukan? Mungkin jawabannya cuma satu, BERDOA dan mendekatkan diri pada Tuhan. Idealis? Iya. Sulit dilakukan? Tepat! Mati-matian nerapinnya? Absolutely... Biar makin afdol, bisa dilengkapi dengan berolahraga untuk menyalurkan emosi negatif itu. Jadi kesimpulannya, kesehatan fisik, mental dan spiritual sangat erat hubungannya satu sama lain.

Saya, sebagai manusia normal, juga pernah punya masalah yang yach... memang tidak kompleks. Tapi dengan tidak segera diselesaikan ternyata masalah itu secara tidak disadari membebani otak saya yang sudah terbatas ini. Akibatnya apa? Membuat saya stres (walopun masih dalam taraf low) dan buntut-buntutnya menimbulkan batuk, pilek, biduran, gatal-gatal yang muncul silih berganti seperti pergantian musim di negara Paman Sam. Mengganggu? Tentulah! Itu memang penyakit cupu, penyakit enggak banget, penyakit remeh temeh, tapi ternyata sekali lagi sodara-sodara : MENGGANGGU!!! Kenapa? Pertama, tidak nyaman sekali bukan sentlap sentlup nahan ingus yang berlomba-lomba pengen melihat indahnya dunia di luar lubang berbulu yang dinamakan hidung, batuk seperti nenek-nenek dan akhirnya berakhir dengan balsem/minyak kayu putih yang baunya menyengat seantero kantor, garuk-garuk karena biduran persis monyet kegirangan menatap kacang sebaskom di depan mata. Kedua, penyakit batuk dan pilek itu menular, Bung! Dan itu membuat reputasi kita di hadapan masyarakat umum terjun bebas seperti harga saham beberapa bulan lalu. Akibat lebih lanjutnya kita dijauhi seperti layaknya sampah masyarakat yang tidak layak tampil di panggung pergaulan dunia. Ketiga, boros banget musti bolak balik ke dokter minta obat ini itu dan ampun...badan seperti tempat sampah kimia yang harus rajin diguyur dengan air putih lebih dari 8 gelas sehari kalo gak mau ginjal kamu semaput. Dan minum air putih banyak-banyak itu bisa membuat kita bolak balik ke toilet berkali-kali sampe kecapekan dan gak bisa kerja.

Pelajaran moral yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah be healthy physically, mentally and spiritually. Karena stres itu tak ada gunanya, karena stres itu costly, dan karena stres itu mengganggu diri sendiri dan orang lain, maka hindarilah stres. Berolahraga, berdoa, dan bergaul dengan orang yang tepat mungkin jawaban yang paling tepat untuk menghindarkan diri dari stres.

Ok deh, akhir kata saya mengucapkan selamat bertahun baru ria nanti malam!!! Semoga di tahun baru kita selalu sehat, terbebas dari stres, dan mampu menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan baru untuk diri sendiri dan sesama. Aminnnn.....

Selasa, 02 September 2008

Single but not Trully Single

"Hayuk, Ber, ikut arisan. Murah meriah kok, cuma gopekan sebulan. Sekali narik, 2 orang yang dapet. Kalo lo ikut, dapetnya 5 juta neh. Yuk...yuk...yuk..."

"Taun baru ntar ngapain, Ber? Jalan-jalan yuk! Ke Hanoi aja, tadi gw udah cek harga tiketnya. Murah!!!!"

"Ber, neh ada rusunami mo dibangun lagi. Di Casablanca. Tempatnya bagus deh kayaknya, dan udah dibebasin. Soalnya setiap hari gw lewat situ, lahannya bentuknya tanah kosong gitu. Gak kaya rusunami Salemba yang sampe sekarang aja bentuknya masih ruko-ruko gitu."

"Eh, neng, ada sale tuh. Weekend kita blanja blanji yuk. Ada banyak baju lucu tuh!!!"

Dan jawaban aku atas ajakan itu semua adalah ENGGAK, DEH. MAKASIH... LAIN KALI AJA.

Dan komentar seragam yang ada kemudian adalah:
"Ya ampun, Ber. Lo tuh kan single, belum punya tanggungan. Gaji gede dipake buat ngapain aja sih emangnya. Hari gini duit kok cuma dipake buat nabung, rugi kali, Ber. Sekali-sekali dipake buat hura-hura kenapa? Jangan ngirit mulu ah!"

Fyi, ya, bapak-bapak dan ibu-ibu, bukannya mo nyombong neh, kalo dibilang aku gak pernah jalan-jalan, dalam setaun ini aja aku udah 3 kali piknik ke luar kota. Yang pertama ke Malang & Bromo, yang kedua ke Singapur & Bangkok, dan yang ketiga kemaren barusan ke Bangka & Belitung. Heeeellllluuuuu....masih dibilang ngirit tuh?

Trus lagi neh, ya, coba deh kenalan sama manusia-manusia single di luaran sana. Gak sedikit lho dari mereka yang justru sebagian penghasilannya lari buat orang laen, misal biayain sekolah adeknya, naikin haji bapak ibunya, beli/renovasi rumah orang tua, bantu sodara untuk bikin usaha kecil-kecilan, dan lain-lain. Dengan kata lain, gak semua single itu menanggung hidupnya seorang.

Lalu apakah mereka menyesal dengan semua hal yang harus mereka tanggung itu? Enggak sepenuhnya. Ada beberapa di antaranya yang bahkan gak punya pilihan selain harus menanggung itu semua. Mana tega ngebiarin orang tua di kampung hidup di rumah yang bocor sana sini kalo ujan, mana sanggup nelantarin adek sendiri yang pengen pinter dan jadi sarjana sementara orang tua udah gak sanggup biayain, apa iya masih bisa makan enak sementara tahu bahwa di luaran sana sodaranya baru dipecat dari kantor tempatnya bekerja.

Beruntung kalo sebagai happy single, selain bisa membahagiakan orang lain juga bisa membahagiakan diri sendiri. Ini kan jamannya investasi. Deposito, reksadana, ORI, property, emas, dan berbagai bentuk investasi menjadi pilihan yang cukup menjanjikan untuk masa depan. Daripada duit dihambur-hamburkan untuk memuaskan kebahagiaan sesaat, gak salah dunk kalo generasi single yang masih muda ini berinvestasi supaya tidak menyusahkan orang lain di hari tua nanti.

Jadi, siapa bilang being single is totally free? Endaklah... Banyak hal yang justru dibebankan ke pundak seorang single. Sebenermya sih kalo mau fair, mau single kek, ganda campuran atau ganda putra/putri, semuanya punya masalahnya sendiri-sendiri. Maksudnya apapun statusnya, menikah atau belum menikah, pasti punya konsekuensi tersendiri. Untuk yang sudah berkeluarga punya tanggung jawab untuk ngurusin keluarga mereka sendiri. Belom lagi kalo ada keluarga (bisa dari pihak istri/suami) yang minta diurusin juga. Menjadi single juga punya konsekuensi karena lebih 'layak' untuk dimintain tolong dengan alasan dianggap belum punya tanggungan.

Kamis, 07 Agustus 2008

Jealousy

At some extent, being an object of jealousy is annoying, but you know what, it could be fun also. Maksud aku dengan object of jealousy bukan dicemburuin pacar/suami/istri sendiri lho ya, tapi lebih kepada dicemburuin pacar/suami/istri ORANG LAEN. Ha...ha...ha...

Fyi, dari jaman kuliah temen aku kebanyakan cowok. Gak tau kenapa lebih nyaman aja jalan sama mereka. Hhhh...lupakan kalo itu dikarenakan aku dipuja-puja layaknya dewi mengingat I'm the only woman in that community, no....no....no.... Jauh banget dari itu! Atau karena enak dilindungi banyak pria. Halah...bull shit, jarang banget itu kejadian di aku. Lha wong kalo pulang maen udah malem banget juga sering-seringnya dibiarin aja gitu ngeloyor sendirian tanpa mikir gimana kalo aku diculik, atau kenapa napa di jalan. Tapi setidaknya temenan ama anak-anak cowok lebih gak ribet dibandingin ama cewek yang kalo mo jalan, dandan dulu, ngeroll rambut dulu, pilih-pilih baju dulu yang matching ama suasana hati dulu, hadohhhh... Bisa makan waktu berapa jam tuh? Jalan ama anak cowok itu simple, tinggal ambil baju di lemari pake ilmu bonda bondi/cap cip cup cabe rawit/atau yang paling parah pake ajian tokek (itu tuh kalo tokeknya bunyi berarti pilih baju A, kalo tokeknya diem pilih baju B), sisiran (biar lebih asoy basahi dengan sedikit air ludah. Hhhiiiiyyyy...), semprot parfum crat crut di ketek kiri & ketek kanan, trus udah deh, bersiap menyongsong pergaulan anak muda masa kini.

Nah, gara-gara punya banyak temen cowok, yang puji Tuhan beberapa di antaranya itu udah laku di pasaran, ada beberapa pacar mereka yang cemburu sama aku. Aku bilang beberapa lho, ya. Gak semua. Ada juga kok yang tetep asik dan ok punya, malah sering aku culik buat nemenin belanja (satu hal yang gak pernah aku lakukan sama temen-temen cowok. Gak seru!!!). Pertama-tama kaget juga, walah...kok ya cemburu sama aku to, ya, Mbak. Lhah kalo aku tuh tinggi langsing, kulit putih, rambut panjang, kayak Sandra Dewi, atau kecil, lucu, imut kayak sapa tuh yang maen I Love You, Om, nah....baru cucok dicemburuin. Nah ini, hellooo...seorang Berti yang yach...secara penampilan fisik biasa-biasa aja (tapi sekarang cantikan lho dibanding jaman kuliah dulu. Yiipppiiieee...), secara cara ngomong juga kayak perompak (teriak-teriak berisik gitu), secara finansial juga bukan objek yang tepat buat bisa diporotin. Ya emang sih kalo urusan bahan obrolan, gak ada matinye, ada aja yang diobrolin dan gak basi (ndak papa to ya nyombong dikit, dikitttttt...aja deh). Tapi jujur aja neh, kadang aku bangga juga lho dicemburuin cewek-cewek itu. Bayangkan, ternyata aku masih LAYAK dicemburuin. Means I'm qualified enough to be their rival. Hiyeeeeeesssss, dengan modal seadanya ternyata masih diakui juga di jagad pertarungan menarik perhatian makhluk berjudul laki-laki. Ya...ya...ya...now you know the power of aura. He...he...he...

Eeeiiittt...tapi bukan berarti lho ya aku jadi ketagihan dicemburuin, emang aku sesinting itu apa. Kadang capek juga dicemburuin, pengen gitu rasanya ya sudahlah memutuskan pertemanan dengan beberapa orang temen cowok daripada buntut-buntutnya sakit hati. Masih mending kalo cuma diomongin doang, kalo udah pake acara didoa-doain, didukun-dukunin, kan repot. Ya emang sih, pernah juga kecemburuan itu tidak salah alamat. Akunya emang lagi ada rasa sama pacarnya. Tapi enggak kok, aku enggak terus yang genit-genit ama cowoknya kok, enggak terus yang wuuuu....semangat 45 buat mencari perhatiannya, enggak terus yang lenjeh-lenjeh gimana gitu. Biasa ajalah pokoknya, stay cool. Cuma mungkin yang namanya insting perempuan kali ya, alarm sensitif banget dan langsung berbunyi kalo ada perempuan lain yang baru niat, atau bahkan sudah mulai menjajaki lelakinya.

Jumat, 11 Juli 2008

Wisata Medan

Pemerintah mencanangkan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Wisata atau lebih kerennya Visit Indonesia Year untuk meningkatkan jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Untuk mendukung program itu, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Misalnya mempercantik obyek-obyek wisata, memperbaiki jalur menuju obyek tersebut, dan mempermudah jalur transportasinya. Sebagai warga negara yang baik, kita hendaknya turut serta mendukung program pemerintah tersebut. Hal yang paling mudah dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan obyek wisata dan membayar kewajiban retribusi dengan ikhlas.

Minggu kemarin, untuk kedua kalinya di tahun 2008 aku dapat 'jatah' pergi ke Medan. Kunjungan pertama bulan Februari dan kami setim menyempatkan diri pergi ke penangkaran buaya dan Berastagi. Kunjungan ke penangkaran buaya memberi kesan tersendiri karena ketua timku hampir menjadi headline koran karena digigit buaya yang piknik sebentar dari kandangnya. Untung daya refleknya bagus sehingga dia sempat menghindar dan selamat. Hadoooohhh....deg-degan kami seketika itu juga. Kenapa itu bisa terjadi? Karena kandang buayanya benar-benar tidak kondusif lagi untuk menampung buaya dengan ukuran rata-rata 2 meter. Padahal ada satu kolam yang isinya puluhan ekor balita buaya yang suatu saat nanti pasti akan menjadi dewasa dan harus dipindahkan ke kandang itu. Walah....bisa epet-epetan tuh buaya. Belom lagi pengelola penangkaran yang cuma beberapa orang (dan berbadan kecil) plus ongkos masuk yang cuma Rp5,000 makin memperkeruh kelangsungan hidup penangkaran buaya itu. Menurut sopir kami, pemerintah daerah tidak mau mengelolanya. Mengenaskan...
Tentang Berastagi, yach....okelah. Tidak jauh beda dengan Kaliurang yang dulu sering aku datangi di Jogja. Tempatnya berada di dataran tinggi, jadi udaranya lebih sejuk dibanding Medan. Mungkin akan lebih bagus kalo disediakan tempat-tempat makan yang lebih rapi. Wisata yang ada sekarang adalah keliling naik kuda atau menginap di hotel-hotel kecil yang banyak bertebaran di sana sini.

Kunjungan ke Medan minggu kemarin diisi dengan piknik ke Danau Toba, salah satu kandidat 7 keajaiban dunia yang digelar saat ini. Kami menyempatkan menginap di Hotel Silintong, Tuktuk, Pulau Samosir semalam. Hotel itu berada di pinggir Danau Toba. Waktu kami menyempatkan diri untuk duduk-duduk di pinggir danau, sayang seribu sayang bahwa kami mendapati ada sampah terapung. Danau Toba sebenarnya bagus banget. Dikitari bukit-bukit yang membuat hati sejuk kalo ngeliatnya. Pokoknya gak jauh beda kayak foto Skotlandia yang di postcard itu. Lebih bagus malah. Asli.... Apalagi di hotel tempat kami menginap ada kebun anggrek yang warna warni yang bikin mata jadi tambah seger. Hotel juga menyediakan tempat khusus untuk berenang dan memancing. Wuih...pokoknya tempat berlibur yang endang s. taurina bambang (enak banget, red). Tapi ya itu, tetep aja ada aktivitas MC minus K yang dilakukan di tepiannya dan membuat mata jadi agak sepet. Pemandangan lain yang cukup menghibur adalah adanya anak-anak lelaki yang berenang-renang mengharap lemparan koin dari para penumpang kapal. Plus ada beberapa anak yang menyanyikan lagu-lagu Batak di kapal tempat kami menumpang. Wedew...wedew...Batak kali, Bung!!

Capeklah menuding pemerintah daerah tidak becus mengelola obyek-obyek pariwisata yang sebenarnya membuat iri negara lain. Letihlah mengharap bantuan dari pihak lain untuk membangun obyek wisata daerah menjadi benar-benar layak jual. Satu-satunya hal yang paling mungkin dilakukan adalah mari menanamkan kesadaran diri untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitar obyek wisata dan membuatnya menjadi warisan tak ternilai untuk anak cucu.


Jumat, 20 Juni 2008

10 Things About Me


1. Dari dulu punya niat gak makan daging merah, tapi selalu kandas kalo liat Whooper Jr-nya Burger King.

2. Menggunakan toilet kantor dengan maksimal; untuk pup, tidur, tempat melarikan diri paling aman dari kejaran bos, sampe mencetin komedo di hidung sambil ngaca di cerminnya yang gede.

3. Gak bisa ekspresif kalo lagi naksir cowok. Waaatttttaaaaa…..

4. Punya cara terampuh untuk meningkatkan daya pikir. Ngupil….

5. Tak bisa melewatkan sehari di kantor tanpa Yakult. Saya minum dua!!!!

6. Desperado beli baju putih selama di Jakarta. Airnya jelek, bajunya cepet banget berubah warna. Aaarrrrgggghhhh…

7. Mati-matian nolak pake produk pemutih muka. Coz what? Karena pasti boros makenya, bukan Cuma di muka doang, bo’… Sekujur badan musti diolesin biar putihnya rata. Ya to?!

8. Bersedia menjadi tempat sampah curhat untuk semua orang dan semua topik, kecuali tentang PERSELINGKUHAN!!!

9. Good Day Vanilla Latte is my soulmate.

10. Punya 3 nomor handphone dan tidak berniat untuk menonaktifkan salah satunya. Sombong nian aku!!!

Rabu, 11 Juni 2008

Ada Kalanya....

Ada kalanya....
Bahu ini lelah menjadi sandaran tangisan...
Telinga ini lelah mendengar keluhan dan rintihan...
Mata ini lelah melihat mata lain berlinang air mata...
Mulut ini lelah menyabarkan orang...

Ada kalanya ingin membiarkan...
Segala rasa mengambang dalam kehampaan udara sekitar...
Raga melemas di haribaan jagat raya...
Ketakutan berebut merasuk di kepala...
Kebahagiaan membuncah menyesaki dada...
Hingga kedamaian hanya tersisa di jiwa...

Selasa, 27 Mei 2008

Hebohnya Rusunami

Program Kementrian Perumahan Rakyat untuk membangun 1,000 tower di Jakarta sudah dimulai. Yap, rusunami. Rumah Susun Sederhana Milik... Ada beberapa yang rencananya mo dibangun di Jakarta, ada yang di Kelapa Gading, Cawang, Cengkareng, Front Residence Tangerang, Pulo Gebang, Taman Palem, Anggana Kebon Jeruk, Mitra Safir Bekasi, Kebagusan City, Moderland Tangerang, Daan Mogot, Kalibata, dll. Eh, sebagian malah sudah mulai dibangun ding. Bagi penduduk Jakarta (harus dibuktikan dengan KTP dan kartu keluarga) yang berpenghasilan di bawah Rp4,5 juta bisa mendapatkan layanan rusunami bersubsidi. Sedangkan bagi penduduk yang lain (tidak harus warga Jakarta) dengan gaji di atas jumlah itu mendapat jatah non subsidi. Perbedaannya lumayan sih sebenarnya, sekitar Rp14 juta karena yang mendapat subsidi dibebaskan dari membayar pajak. Untuk unit dengan 2 kamar tidur, harga subsidi Rp144 juta sedangkan non subsidi Rp158 juta.

Kebetulan ada seorang teman yang berminat untuk membeli rusunami di Kalibata. Dia tahu info tentang adanya rusunami ini dari pameran di Pancoran yang waktu itu gak sengaja kita liat karena emang kita janjian di situ. Setelah bla...bla...bla...dengan marketingnya, akhirnya esok harinya kita lihat lagi pamerannya. Kali ini di JHCC. Ternyata untuk bisa mendapat kesempatan memilih unit rusunami itu, pembeli diwajibkan membayar booking fee sebesar Rp1 juta. Nantinya pembeli akan ditelpon untuk datang ke kantor pemasaran pada tanggal tertentu dan bisa memilih unit mana yang disukainya. Tentu dengan syarat asalkan unit itu belum dibeli orang lain.

Hari Minggu kemarin akhirnya tiba giliran temanku mendapat panggilan. Fuih...antrenya panjang banget. Setelah menunggu sekitar 3 jam akhirnya tibalah jatahnya. Waduh...di dalem orang sudah berjubel dan yang ditawarkan sampai saat itu masih Tower C. Ini berbeda dengan apa yang diinformasikan sebelumnya lewat telepon karena seharusnya jatah hari itu adalah untuk Tower D. Ya sudah...daripada dapet unit sisa, akhirnya kita memutuskan untuk ke sana lagi esok hari, tepat ketika penawaran Tower D sudah dibuka.

Karena hari itu adalah hari kerja dan kita memang tidak bisa ijin terlalu lama dari kantor, akhirnya kita ke sana after working hours. Weleh...weleh...Jl. Pasar Minggu macet bener yak. Nyampe di sana jam 6 sore dan kita dapet antrean no 265, padahal saat itu baru sampai antrean 180an. Hmm...bisa baru jam 10 neh dipanggil. Selama menunggu panggilan, sempet ngeliat-ngeliat orang di sekitar situ. Dari tampangnya, dandanannya, penampilannya, banyak di antara mereka yang berasal dari kalangan orang berada. Bahkan ada beberapa yang aku tanya, mereka enggak nyicil lho belinya. Bayar cash, kontan, lunas...nas...nas... Edan...kayaknya pemerintah tuh niatnya buat ngasih tempat tinggal untuk warga Jakarta yang tidak mampu membeli rumah dengan harga makin melangit di ibu kota, lhah kok yang terjadi malah sebaliknya. Ini yang salah pemerintahnya apa warganya ya?

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 dan dokumen masih di bagian legal untuk dicek kembali dan selanjutnya dimintakan tanda tanda tangan atas perjanjian kredit yang sudah disiapkan. Aku tidur di pojokan ruang, sementara temanku sudah kusut banget mukanya. Capek... Tapi petugasnya juga gak kalah capek lah. Begitu terus tiap hari dari tanggal 15 - 31 Mei, dari jam 8 pagi - 12 malem. Apa gak rontok tuh badan.

Akhirnya jam 00.30 pagi semuanya sudah beres. Kami pulang... Di taksi mata udah sepet aja bawaannya. Nyampe kosan, gak sempet ngapa-ngapain udah langsung tewas terkapar a.k.a tepar di kasur. Zzzzzzz.... dan pagi harinya bangun kesiangan. Jam 06.30 pagi, jack!!!! Omigos....

Kamis, 08 Mei 2008

Hari ini Aku Ulang Tahun...


Ucapan berjejalan masuk lewat email, sms, telepon, jabat tangan, dan peluk cium. Dari keluarga, temen-temen kantor, sahabat-sahabat SMA, temen-temen kuliah, dan pacar-pacarnya temen.

Di bawah ini hasil rekapanku atas beberapa 'semoga' dari teman-temanku:
1. Wish u all the best...
2. Semoga panjang umur
3. Semoga bahagia dan sukses selalu dalam karir & cinta...
4. Semoga tambah putih....
5. Tambah tua, lho, Ber...

Dan yang memegang rekor tertinggi adalah:
6. Semoga segera ketemu jodoh...
7. Semoga segera dapet undangan dan tiket ke Jogja...

Atas doa dan harapan teman-teman, saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya dan aminnnnnnn......

Selasa, 06 Mei 2008

Dari Ajang Indonesian Idol


Akhirnya terpilih juga 12 kontestan Indonesian Idol untuk masuk babak spektakuler. Yang pasti Aji dunk masuk juga. He...he...he... Ngefans abis neh sama makhluk yang satu ini. Bukan cuma karena sama-sama dari Jogja, tapi lebih karena dia gak ganteng tapi punya magnet. Uhuyyyy....

Ok, aku bukan mau kasih comment tentang kontestan cewek. Yup, karena aku kecewa kontestan jagoanku terlempar keluar di ajang workshop. Twenty & Ibeth kan bagus... Kenapa juga malah Tiffany, Dyna, dan Safira yang masuk? Huuuu.....

Yang menarik dari babak workshop kontestan cowok kemaren Sabtu malem itu adalah pernyataan Lala. Yup, kontestan asal Malang yang satu ini, yang gaya nyanyinya mirip-mirip Armand Maulana, yang kalo ngomong lidahnya melet-melet kayak kadal (uuuppppssss....maaf), ternyata punya konsep berpikir yang patut diacungin jempol. Mmmm...setidaknya jempol aku deh, empat-empatnya juga boleh. He...he...he... Ini maksud aku konsep berpikirnya lho ya, bukan kualitas nyanyinya. Jujur, kalo disuruh prediksi siapa 3 orang yang bakal keluar malam itu, prediksiku memang salah satunya Lala.

Lala ternyata udah sekitar 4 tahun gak ketemu ibunya, udah sekitar 15 tahun gak ketemu bapaknya. Mereka berdua bekerja di Arab sebagai TKI untuk majikan yang sama. Trus waktu babak workshop itu, habis Lala nyanyi, ternyata pihak RCTI nelpon ibunya di Arab sana biar bisa ngobrol sama Lala. Yang membuat aku salut banget sama Lala adalah dia bilang, "Udah, Bu jangan nangis ya. Jangan jual kasihan buat penonton Indonesian Idol. Pokoknya doain aku aja. Kita meskipun jauh tapi dekat di hati." Deg... Ya ampun, orang seperti Lala yang terkesan slengekan, pecicilan, dan seenak udelnya ternyata bisa ngomong seperti itu. Dia bisa membuat orang tersadar bahwa, ok...dia emang mungkin berada dalam golongan orang yang kurang beruntung, tapi ajang Indonesian Idol adalah ajang menjual kualitas dan bukan mengeksploitasi ketidakberuntungan itu. Sekali lagi, four thumbs for you, La... Meskipun kamu gak masuk babak spektakuler, tapi jangan takut. Seribu jalan ke Roma, seribu jalan untuk mewujudkan cita-cita. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Semangat ya, La!!!!